solok, sumatera barat
GALIH PRAYOGA BLOG'S
selamat datang di blog saya....
Selasa, 27 Oktober 2015
Senin, 29 September 2014
ditepian sebuah kawah di pagi itu, meski hawa dingin menusuk, meski bau asap belerang menyengat tetap kudekati. bukan untuk menaklukan tapi untuk bersahabat denganmu..terima kasih, satu pelajaran bagaimanapun alam tak bisa ditantang dan ditaklukan tapi bisa dijadikan sahabat dan kita menyatu didalamnya.SALAM DARI PUNCAK GUNUNG
Di atas 7000 kaki
Dalam dingin yang membeku
Tubuh seakan terbungkus
Aku terus mendaki
Dalam dingin yang membeku
Tubuh seakan terbungkus
Aku terus mendaki
Meski letih tubuh ini
Dengan beban di punggungku
Semangat masih terjaga
Oleh aroma tanah
Yang menyejukkan dadaku
Dengan beban di punggungku
Semangat masih terjaga
Oleh aroma tanah
Yang menyejukkan dadaku
Betapa leganya hati
Ketika langkah t’lah sampai
Ku rentangkan ke dua tangan
Berputar dan berputar
Edelweis kupetik satu
Kudekapkan ke dadaku
Edelweis kupetik satu
Kan kubawa untukmu
Ketika langkah t’lah sampai
Ku rentangkan ke dua tangan
Berputar dan berputar
Edelweis kupetik satu
Kudekapkan ke dadaku
Edelweis kupetik satu
Kan kubawa untukmu
Rabu, 21 Mei 2014
MUHAMMAD HATTA
semoga negeri ini.... kembali MELAHIRKAN manusia yang LEBIH CINTA NEGERI nya daripada kepentingan golongannya....
semoga negeri ini MAU BELAJAR dari kisah manusia SEDERHANA.... pernah menjadi orang NO. 2 di negeri ini... namun tetap hidup ber SAHAJA hingga ajal menjemputnyaa....
Dandanan mentereng, rumah, dan mobil mewah agaknya sudah menjadi gaya hidup para pejabat saat ini. Masyarakat pun kembali merindukan figur-figur pemimpin yang sederhana dan pantas untuk dijadikan teladan.
Suatu hari, di tahun 1950, Wakil Presiden Muhammad Hatta pulang ke rumahnya. Begitu menginjakkan kaki di rumah, ia langsung ditanya sang istri, Ny Rahmi Rachim, tentang kebijakan pemotongan nilai mata ORI (Oeang Republik Indonesia) dari 100 menjadi 1.
Pantas saja hal itu ditanyakan, sebab, Ny Rahmi tidak bisa membeli mesin jahit yang diidam-idamkannya akibat pengurangan nilai mata uang itu. Padahal, ia sudah cukup lama menabung untuk membeli mesih jahit baru. Tapi, apa kata Bung Hatta?
"Sunggguhpun saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada siapa pun. Biarlah kita rugi sedikit, demi kepentingan seluruh negara. Kita coba menabung lagi, ya?" jawab Bung Hatta.
Kisah mesin jahit itu merupakan salah satu contoh dari kesederhanaan hidup proklamator RI Bung Hatta (1902-1980) dan keluarganya. Sejak kecil, Bung Hatta sudah dikenal hemat dan suka menabung. Akan tetapi, uang tabungannya itu selalu habis untuk keperluan sehari-hari dan membantu orang yang memerlukan.
Saking mepetnya keuangan Bung Hatta, sampai-sampai sepasang sepatu Bally pun tidak pernah terbeli hingga akhir hayatnya. Tidak bisa dibayangkan, seorang yang pernah menjadi nomor 2 di negeri ini tidak pernah bisa membeli sepasang sepatu. Mimpi itu masih berupa guntingan iklan sepatu Bally yang tetap disimpannya dengan rapi hingga wafat pada 1980.
Bung Hatta baru menikah dengan Ny Rahmi 3 bulan setelah memproklamasikan kemerdekaan RI bersama Bung Karno atau tepatnya pada 18 November 1945. Saat itu, ia berumur 43 tahun. Apa yang dipersembahkan Bung Hatta sebagai mas kawin? Hanya buku "Alam Pikiran Yunani" yang dikarangnya sendiri semasa dibuang ke Banda Neira tahun 1930-an.
Setelah mengundurkan diri dari jabatan Wapres pada tahun 1956, keuangan keluarga Bung Hatta semakin kritis. Uang pensiun yang didapatkannya amat kecil. Dalam buku "Pribadi Manusia Hatta, Seri 1," Ny Rahmi menceritakan, Bung Hatta pernah marah ketika anaknya usul agar keluarga menaruh bokor sebagai tempat uang sumbangan tamu yang berkunjung.
Ny Rahmi mengenang, Bung Hatta suatu ketika terkejut menerima rekening listrik yang tinggi sekali. "Bagaimana saya bisa membayar dengan pensiun saya?" kata Bung Hatta. Bung Hatta mengirim surat kepada Gubernur DKI Ali Sadikin agar memotong uang pensiunnya untuk bayar rekening listrik. Akan tetapi, Pemprov DKI kemudian menanggung seluruh biaya listrik dan PAM keluarga Bung Hatta.
Bung Hatta adalah pendiri Republik Indonesia, negarawan tulen, dan seorang ekonom yang handal. Di balik semua itu, ia juga adalah sosok yang rendah hati. Sifat kesederhanaannya pun dikenal sepanjang masa. Musisi Iwan Fals mengabadikan kepribadian Bung Hatta itu dalam sebuah lagu berjudul "Bung Hatta".
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkapal doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu
masih adakah sosok seperti BELIAU hari ini.. ??
semoga negeri ini.... kembali MELAHIRKAN manusia yang LEBIH CINTA NEGERI nya daripada kepentingan golongannya....
semoga negeri ini MAU BELAJAR dari kisah manusia SEDERHANA.... pernah menjadi orang NO. 2 di negeri ini... namun tetap hidup ber SAHAJA hingga ajal menjemputnyaa....
Dandanan mentereng, rumah, dan mobil mewah agaknya sudah menjadi gaya hidup para pejabat saat ini. Masyarakat pun kembali merindukan figur-figur pemimpin yang sederhana dan pantas untuk dijadikan teladan.
Suatu hari, di tahun 1950, Wakil Presiden Muhammad Hatta pulang ke rumahnya. Begitu menginjakkan kaki di rumah, ia langsung ditanya sang istri, Ny Rahmi Rachim, tentang kebijakan pemotongan nilai mata ORI (Oeang Republik Indonesia) dari 100 menjadi 1.
Pantas saja hal itu ditanyakan, sebab, Ny Rahmi tidak bisa membeli mesin jahit yang diidam-idamkannya akibat pengurangan nilai mata uang itu. Padahal, ia sudah cukup lama menabung untuk membeli mesih jahit baru. Tapi, apa kata Bung Hatta?
"Sunggguhpun saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada siapa pun. Biarlah kita rugi sedikit, demi kepentingan seluruh negara. Kita coba menabung lagi, ya?" jawab Bung Hatta.
Kisah mesin jahit itu merupakan salah satu contoh dari kesederhanaan hidup proklamator RI Bung Hatta (1902-1980) dan keluarganya. Sejak kecil, Bung Hatta sudah dikenal hemat dan suka menabung. Akan tetapi, uang tabungannya itu selalu habis untuk keperluan sehari-hari dan membantu orang yang memerlukan.
Saking mepetnya keuangan Bung Hatta, sampai-sampai sepasang sepatu Bally pun tidak pernah terbeli hingga akhir hayatnya. Tidak bisa dibayangkan, seorang yang pernah menjadi nomor 2 di negeri ini tidak pernah bisa membeli sepasang sepatu. Mimpi itu masih berupa guntingan iklan sepatu Bally yang tetap disimpannya dengan rapi hingga wafat pada 1980.
Bung Hatta baru menikah dengan Ny Rahmi 3 bulan setelah memproklamasikan kemerdekaan RI bersama Bung Karno atau tepatnya pada 18 November 1945. Saat itu, ia berumur 43 tahun. Apa yang dipersembahkan Bung Hatta sebagai mas kawin? Hanya buku "Alam Pikiran Yunani" yang dikarangnya sendiri semasa dibuang ke Banda Neira tahun 1930-an.
Setelah mengundurkan diri dari jabatan Wapres pada tahun 1956, keuangan keluarga Bung Hatta semakin kritis. Uang pensiun yang didapatkannya amat kecil. Dalam buku "Pribadi Manusia Hatta, Seri 1," Ny Rahmi menceritakan, Bung Hatta pernah marah ketika anaknya usul agar keluarga menaruh bokor sebagai tempat uang sumbangan tamu yang berkunjung.
Ny Rahmi mengenang, Bung Hatta suatu ketika terkejut menerima rekening listrik yang tinggi sekali. "Bagaimana saya bisa membayar dengan pensiun saya?" kata Bung Hatta. Bung Hatta mengirim surat kepada Gubernur DKI Ali Sadikin agar memotong uang pensiunnya untuk bayar rekening listrik. Akan tetapi, Pemprov DKI kemudian menanggung seluruh biaya listrik dan PAM keluarga Bung Hatta.
Bung Hatta adalah pendiri Republik Indonesia, negarawan tulen, dan seorang ekonom yang handal. Di balik semua itu, ia juga adalah sosok yang rendah hati. Sifat kesederhanaannya pun dikenal sepanjang masa. Musisi Iwan Fals mengabadikan kepribadian Bung Hatta itu dalam sebuah lagu berjudul "Bung Hatta".
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkapal doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu
masih adakah sosok seperti BELIAU hari ini.. ??
KENAPA HARUS BERPETUALANG ?
"Saya selalu menyarankan ini, jika kalian masih muda, punya banyak waktu luang, tidak memiliki terlalu banyak keterbatasan, maka berkelilinglah melihat dunia. Bawa satu ransel di pundak, berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu desa ke desa lain, dari satu lembah ke lembah lain, pantai, gunung, hutan, padang rumput, dan sebagainya.
Menyatu dengan kebiasaan setempat, naik turun angkutan umum, menumpang menginap di rumah-rumah, selasar masjid, penginapan murah meriah, nongkrong di pasar, ngobrol dengan banyak orang, menikmati setiap detik proses tersebut.
Maka, semoga, pemahaman yang lebih bernilai dibanding pendidikan formal akan datang. Dunia ini bukan sekadar duduk di depan laptop atau HP, lantas terkoneksi dengan jaringan sosial yang sebenarnya semu. Bertemu dengan banyak orang, kebiasaan, akan membuka simpul pengertian yang lebih besar. Karena sejatinya, kebahagiaan, pemahaman, prinsip-prinsip hidup itu ada di dalam hati.
Kita lah yang tahu persis apakah kita nyaman, tenteram dengan semua itu. Nah, kalau kalian punya keterbatasan, lakukanlah dalam skala kecil, jarak lebih dekat, dengan pertimbangan keamanan lebih prioritas. Itu sama saja. Lihatlah dunia, pergilah berpetualang, perintah itu ada dalam setiap ajaran luhur.”
-Mengutip dari bang Tere Liye-
"Saya selalu menyarankan ini, jika kalian masih muda, punya banyak waktu luang, tidak memiliki terlalu banyak keterbatasan, maka berkelilinglah melihat dunia. Bawa satu ransel di pundak, berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu desa ke desa lain, dari satu lembah ke lembah lain, pantai, gunung, hutan, padang rumput, dan sebagainya.
Menyatu dengan kebiasaan setempat, naik turun angkutan umum, menumpang menginap di rumah-rumah, selasar masjid, penginapan murah meriah, nongkrong di pasar, ngobrol dengan banyak orang, menikmati setiap detik proses tersebut.
Maka, semoga, pemahaman yang lebih bernilai dibanding pendidikan formal akan datang. Dunia ini bukan sekadar duduk di depan laptop atau HP, lantas terkoneksi dengan jaringan sosial yang sebenarnya semu. Bertemu dengan banyak orang, kebiasaan, akan membuka simpul pengertian yang lebih besar. Karena sejatinya, kebahagiaan, pemahaman, prinsip-prinsip hidup itu ada di dalam hati.
Kita lah yang tahu persis apakah kita nyaman, tenteram dengan semua itu. Nah, kalau kalian punya keterbatasan, lakukanlah dalam skala kecil, jarak lebih dekat, dengan pertimbangan keamanan lebih prioritas. Itu sama saja. Lihatlah dunia, pergilah berpetualang, perintah itu ada dalam setiap ajaran luhur.”
-Mengutip dari bang Tere Liye-
Selasa, 20 Mei 2014
Senin, 19 Mei 2014
Memahami Indonesia
tidak hanya dengan sesuatu yang terlihat, karena ada
nilai - nilai yang tak kasat mata yang semestinya bisa dimengerti secara
tersirat. Aku hanya ingin bicara dengan bahasaku sendiri, bukan dengan kata -
kata yang sulit dieja. Dan aku hanya ingin mati di tanahku yang basah oleh
darah dan air mata para penjajah, Tanah Indonesia!

Katanya Indonesia Ketinggalan Jaman Dan Kampungan
Aku pernah membayangkan, dulu ketika bapakku bertanya pada kakekku? "Pak, apakah penjajahan selama 350 tahun itukah yang membuat bangsa kita ini katanya menjadi ketinggalan jaman dan kampungan?"
"Ketinggalan jaman karena orang Indonesia tak pandai memasak daging sapi dan kerbau menjadisteak..... Ketinggalan jaman karena orang Indonesia tak tahu cara memasukan air yang mengalir dari dalam tanah dan celah batu pengunungan ke dalam botol kemasan, atau sekedar meminumnya dari keran.....Ketinggalan jaman karena orang Indonesia tidak tahu bagaimana caranya mengubah batu menjadi permata".
"Kampungan karena orang Indonesia tak tahu cara mengantri.....Kampungan karena orang Indonesia tak biasa membungkukan badan.....Kampungan karena orang Indonesia selalu melihat kanan kiri ketika hendak menyeberang jalan.....Kampungan karena orang Indonesiabukan pemakan sayuran.....Kampungan karena orang Indonesia suka membuang sampah sembarangan.....Kampungan karena orang Indonesia suka kekerasan tanpa tahu cara berdamai.....
Kampungan karena orang Indonesia suka menerobos lampu merah.....Kampungan
karena orang Indonesia senantiasa menutup tubuh kita dengan pakaian yang wajar
dan tertutup.....Kampungan karena orang Indonesia tak tahu cara membersihkan
sayuran.....Kampungan karena orang Indonesia tak punya
taman.....Kampungan karena orang Indonesia panikan karena gempa Bumi dan
gempuran lahar....."
"Benarkah begitu pak? Beri aku penjelasan! Agar kelak anak - anakku tahu kesalahannya, kenapa mereka memaksa menyipitkan mata, memancungkan hidung, atau sekedar memutihkan kulit dengan berbagai macam cara hingga tersiksa semata agar terlihat seperti orang Jepang dan Eropa, hingga memujanya bak negeri impian".
Sejenak tak ada jawaban, hening.....Setelah itu sambil tersenyum perlahan kakekku menjawab pertanyaan bapakku....
"Nak, coba kau panjat gunung tertinggi di Republik ini. Lihat lalu arahkan matamu ke kanan dan ke kiri, ada apa di sana? Namun jika kau tak melihat apa - apa, biar aku yang menjelaskan kenapa semua itu terjadi.
Palingkan tatapanmu ke ujung barat tanah rencong, lalu perlahan kau alihkan ke Borneo, ke Sulawesi, ke Maluku, Hingga ujung timur Irian Jaya. Kemudian perlahan turunkan matamu ke bawah, dan lihatlah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Lombok, Bali, hingga ke Pulau Jawa.
Semua yang dibutuhkan oleh manusia di dunia ini nyaris terhampar dan tersedia di negeri ini. Itulah makanya kenapa mereka para penjajah rela mati ditusuk bambu runcing hingga matanya terbelalak.......Sampai sini kau paham maksudku, nak?"
Jika Kau Tanya Indonesia Ketinggalan Jaman?
"Benarkah begitu pak? Beri aku penjelasan! Agar kelak anak - anakku tahu kesalahannya, kenapa mereka memaksa menyipitkan mata, memancungkan hidung, atau sekedar memutihkan kulit dengan berbagai macam cara hingga tersiksa semata agar terlihat seperti orang Jepang dan Eropa, hingga memujanya bak negeri impian".
Sejenak tak ada jawaban, hening.....Setelah itu sambil tersenyum perlahan kakekku menjawab pertanyaan bapakku....
"Nak, coba kau panjat gunung tertinggi di Republik ini. Lihat lalu arahkan matamu ke kanan dan ke kiri, ada apa di sana? Namun jika kau tak melihat apa - apa, biar aku yang menjelaskan kenapa semua itu terjadi.
Palingkan tatapanmu ke ujung barat tanah rencong, lalu perlahan kau alihkan ke Borneo, ke Sulawesi, ke Maluku, Hingga ujung timur Irian Jaya. Kemudian perlahan turunkan matamu ke bawah, dan lihatlah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Lombok, Bali, hingga ke Pulau Jawa.
Semua yang dibutuhkan oleh manusia di dunia ini nyaris terhampar dan tersedia di negeri ini. Itulah makanya kenapa mereka para penjajah rela mati ditusuk bambu runcing hingga matanya terbelalak.......Sampai sini kau paham maksudku, nak?"
Jika Kau Tanya Indonesia Ketinggalan Jaman?
Nak, Tuhan itu maha adil...Itulah kenapa Dia tidak mengajarkan kepada kita orang Indonesia, agar pandai membuat steak ala Eropa atau Amerika. Seperti mereka yang katanya mengaku modern. Tuhan melakukan itu agar mereka tahu bahwa kita punya rendang dan rabeg yang tidak menimbulkan kanker....
Nak, bukan karena kita orang Indonesia tak bisa
mengemas air ke dalam botol. Tapi karena minum air kendi itu
lebih nikmat dan tak merusak alammu...
"Nak, Indonesia adalah permata nan indah. Tanpa harus menggali batu untuk kau olah menjadi intan, emas, perak, dan berlian hingga menghancurkan alamnya. Kecuali kau gunakan alakadarnya sekedar pemanis tubuh agar terihat lebih cantik dan menawan....".
"Nak, Indonesia adalah permata nan indah. Tanpa harus menggali batu untuk kau olah menjadi intan, emas, perak, dan berlian hingga menghancurkan alamnya. Kecuali kau gunakan alakadarnya sekedar pemanis tubuh agar terihat lebih cantik dan menawan....".
Jika kau tanya, kenapa orang - orang di
Indonesia sulit untuk mengantri? Itu mungkin karena mereka
menganggap bahwa negaranya terlalu luas. Dan oleh karena itu mereka harus
diajarkan bagaimana rasanya hidup di negara yang sempit agar tahu bagaimana
caranya tertib.
Jika kau tanya, kenapa orang Indonesia tidak suka "membungkukan badan"? Itu mungkin karena sesekali orang Indonesia butuh istirahat untuk sekedar meluruskan badan. Karena kebanyakan orang Indonesia senang bergotong - royong. Dan sangat menghormati orang tuanya hinggasungkem dan mengesot seperti yang kau lihat di keluarga keraton."
Jika kau tanya, kenapa orang Indonesia tidak suka "membungkukan badan"? Itu mungkin karena sesekali orang Indonesia butuh istirahat untuk sekedar meluruskan badan. Karena kebanyakan orang Indonesia senang bergotong - royong. Dan sangat menghormati orang tuanya hinggasungkem dan mengesot seperti yang kau lihat di keluarga keraton."
Jika kau tanya, tidak seperti orang Jepang, kenapa orang Indonesia suka menoleh ke kanan dan ke kiri saat menyeberang jalan? Itu mungkin karena orang Indonesia sedang memperhatikan siapa tahu ada seseorang yang perlu dipapah dan dibantu untuk menyeberang jalan.
Jika kau tanya, kenapa orang Indonesia suka menerobos lampu merah sebelum hijau? Itu mungkin karena orang Indonesia terbiasa bekerja keras ala "Romusha". Sebab jika kau tak cepat maka telingamu akan pengang oleh suara - suara aneh di belakangmu.
Jika kau tanya, kenapa orang Indonesia katanya tak suka memakan sayuran layaknya orang Jepang? Itu mungkin karena orang Indonesia sudah bosan dengan sayuran. Sebab di Indonesia menanam sayur tak sesulit seperti di Jepang. Dimana saja kau lempar benih sayur maka disitulah kau tuai hasilnya.
Jika kau tanya, kenapa orang di Indonesia suka membuang sampah sembarangan? Itu karena mereka sangat hapal lagu Koes Plus sampai tahu bahwa tanah dan airnya bisa merubah semua yang mereka buang menjadi tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman.
Jika kau tanya, kenapa orang Indonesia suka kekerasan dan tak tahu cara berdamai? Itu karena mereka sedang belajar memahami perbedaan ribuan bahasa, budaya, dan tata cara. Agar mereka saling mengenal saudara setanah airnya.
Jika kau tanya kenapa orang Indonesia senantiasa menutup tubuh kita dengan pakaian yang wajar dan tertutup? Itu mereka lakukan karena nilai dan norma norma yang mereka pegang teguh. Pun jika kau melihat mereka orang Indonesia yang separuh bertelanjang itu semata karena adat dan budaya. Bukan telanjang yang dibuat buat agar terlihat.
Jika kau tanya, kenapa orang Indonesia tidak tahu cara membersihkan sayuran? Itu karena mereka mengerti betul bahwa tanah dan airnya sangatlah bersih dan bening laksana air gunung yang mengalir.
Jika kau tanya, kenapa Indonesia tak punya taman? Itu karena orang Indonesia tahu bahwa Indonesia adalah ibu yang memiliki semilyar "paru - paru" dari segala taman taman di dunia.
Jika kau tanya, kenapa orang Indonesia suka panik jika terjadi gempa Bumi? Itu karena mereka tak ingin kehilangan nyawa mereka agar mereka bisa lebih lama menikmati indahnya Indonesia.
"Oh iya nak, kelak katakan pada anak - anakmu, tak perlu jauh jauh pergi ke Jepang, Korea atau ke Eropa untuk sekedar melihat putihnya salju, cukuplah mereka datang ke puncak tertinggi Jaya Wijaya di tanah Papua...Bisikan juga pada telinga mereka bahwa keindahan Carstensz Pyramid jauh lebih indah dari gunung Fuji".
"Satu lagi nak, ajarkan kepada cucu - cucuku nanti bahwa bunga melati putih, bunga anggrek bulan, dan bunga padma raksasa, itu ternyata jauh lebih indah dan wangi daripada bunga Sakura".
Kubela Indonesia sampai mati...Sebab teriakan nasionalismeku tak terletak hanya karena aku berdiri menyaksikan pertandingan sepak bola di stadion saja. Bukan juga karena gertakan Malaysia....Apalagi hanya karena berseteru mempersoalkan boyband dan group idol yang mereka puja - puja.
Langganan:
Postingan (Atom)






