Balanced Scorecard adalah alat perencanaan strategik yang sangat berdaya untuk meningkatkan kemampuan organisasi dalam melipatgandakan kinerja keuangan berkesinambungan. Diciptakan oleh professor Dr. Robert S. Kaplan dan Nolan-Norton.
Implementasi Balanced Scorecard sebagai alat perencanaan strategik pada hakikatnya menuntut perubahan secara radikal gaya manajemen (management style) yang meliputi: perubahan alat (toolset), perubahan pengetahuan manajemen (skillset), dan pergeseran sikap mental (mindset). Sebagai alat perencanaan, Balanced Scorecard dilandasi oleh falsafah perencanaan yang fit dengan jamannya dan diisi dengan pengetahuan manajemen yang dilandasi dengan paradigma manajemen baru.
Vincent Gaspersz, seorang ahli yang kompetensinya telah diakui secara nasional maupun internasional, akan membahas secara tuntas: – Empat Perspektif dalam Balanced Scorecard
- Penetapan Target dan Program Peningkatan Kinerja
- Langkah-langkah Implementasi Sistem Manajemen Balanced Scorecard
- Contoh Kasus Implementasi Sistem Manajemen Balanced Scorecard pada Organisasi Bisnis
- Implementasi Balanced Scorecard pada Organisasi Pemerintah
- Integrasi Program Six Sigma dengan Balanced Scorecard
Pengukuran dalam Balanced Scorecard dibagi kedalam empat perspektif : Pelanggan, Proses Bisnis Internal, Pembelajaran dan inovasi, dan prespektif finansial.
Ukuran tersebut merupakan indikator yang sangat komprehensif untuk menjaga posisi dan kelangsungan masa depan perusahaan.
Perspektif pelanggan menggunakan ukuran berapa nilai yang diberikan kepada pelanggan dilihat dari segi waktu, kualitas, performansi dan layanan, dan biaya. Contohnya ukuran kecepatan waktu mulai dari permintaan sampai dengan pengiriman sampai ditangan pelanggan, tingkat kepuasan pelanggan terhadap produk kita, tingkat penjualan terhadap produk baru, dan atau banyaknya service call yang dilayani.
Pada perspektif internal dapat mengevaluasi ekspektasi yang diharapkan pelanggan dapat terpenuhi melalui perbaikan proses di internal organisasi tersebut. Disini juga kita dapat mengukur tingkat keahlian dan produktifitas karyawan, kualitas yang dihasilkan oleh organisasi tersebut, dan atau sistem informasi yang baik yang berjalan dalam organisasi.
Dari sisi perspektif inovasi dan pembelajaran dari suatu organisasi kita dapat mengukurnya melalui, peningkatan dan inovasi yang berkelanjutan terhadap produk-produk yang dimiliki. Kita harus garis bawahi bahwa produk disini tidak selamanya berupa barang, pelayanan dan hal-hal lain yang bersifat jasa pun adalah produk. Ukuran yang diberikan antara lain banyaknya produk-produk baru yang dihasilkan dan persentase kebrhasilan penjualannya, tingkat penestrasi terhadap market baru, atau implementasi SCM (supply Chain Management).
Apabila target-target diatas dapat terpenuhi maka efeknya akan mengimbas pada perspektif finansial juga. Selain pengukuran standar di finansial, pendekatan lain juga dipakai seperti perbadingan profit margin dengan kepuasan pelanggan. Pertumbuhan profit, pertumbuhan asset, komposisi permodalan, likuiditas juga dinilai dengan cermat.
Norton dan Kaplan menempatkan BSC sebagai alat bagi organisasi (termasuk yang berasal dari sektor publik dan non-profit) untuk mengelola kebutuhan pemegang saham relevannya. Lebih jauh mereka menyarankan BSC sebagai alat untuk memperbaiki aliran informasi dan komunikasi antara top eksekutif dan manajemen menengah dalam perusahaan. BSC ingin memperbaiki sistem konvensional pengontrolan dan akuntansi dengan memperkenalkan fakta lebih kualitatif dan non-finansial. Pertimbangan sasaran finansial serupa dengan sistem tradisional manajemen dan akuntansi. Satu perbaikan penting dari BSC terletak pada fokusnya mendorong nilai bagi profitabilitas masa depan perusahaan. Perspektif pasar bertujuan mengidentifikasi segmen pelanggan dan pasar relevan yang berkontribusi pada sasaran finansial. Dalam istilah manajemen barbasis pasar dari perusahaan, dimensi ini membuat mampu mencapai proses- proses dan produk internal yang sejalur dengan keperluan pasar. Dalam dimensi internal processes, perusahaan harus mengidentifikasi dan menstrukturkan secara efisien proses- proses pendorong nilai internal yang vital terkait dengan sasaran pelanggan dan pemegang saham. Perspektif organizational development akhirnya mencoba menggambarkan semua aspek terkait dengan staf dan organisasional yang vital pada proses reengineering organisasi.
Kata kuncinya adalah Balanced Scorecar menjawab pertanyaan bagaimana menjaga masa depan perusahaan.
Pengertian Metode Balanced Scorecard ( BSC
Ketika kita bicara tentang Balanced Scorecard, dimana terdapat tambahan kata “balanced“ didepan kata “score“, maksudnya adalah bahwa angka (grade) atau “score“ tersebut harus mencerminkan keseimbangan antara banyak elemen penting dalam kinerja.
Menurut Kaplan dan Norton (1996 : 71) bahwa Balanced Scorecard merupakan :
“ ……a set of measures that gives top managers a fast but comprehensive view of business…. Includes financial measures that tell results of actions already taken…. Complements the financial measures with operational measures on customer satidfaction, internal processes, and the organization’s innovation and improvement activities operational measures that are the drivers of future financial performance “.
Sementara Anthony, Banker, Kaplan, dan Young (1997 : 27) mendefinisikan Balanced Scorecard sebagai :
“ a measurement and management system that views a business unit’s performance from four perspective : financial, costumer, internal business process, and learning and growth “.
Amin Widjaja Tunggal (2001 : 4) berpendapat bahwa Balanced Scorecard adalah suatu sistem manajemen strategi atau lebih tepat dinamakan “Strategic based responsibility accounting