Minggu, 03 Juli 2011

manajemen iklas

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.
(Q.S. an-Nisaa [4]: 125).
Pernah diberitakan di media massa, ada seorang ibu yang tega membunuh kedua anaknya yang masih kecil. Setelah proses penyelidikan oleh pihak yang berwajib diketahui bahwa sang Ibu ternyata menderita stress berat. Alangkah ironisnya ketika diselidiki ihwal penyebab stress, sang ibu tertekan karena ia menanggung beban ekonomi yang sangat berat sehingga ia mengambil jalan pintas dengan melampiaskannya kepada buah hatinya. Banyak sudah kejadian serupa itu. Mulai dari orang yang ingin bunuh diri sampai menyakiti orang terdekat seperti cerita di atas tadi. Pemicunya terbagi menjadi dua, yakni dari faktor internal diri sendiri dan faktor eksternal seperti kondisi lingkungan rumah tangga. Pemicu atau faktor internal yang dominan pada dasarnya adalah melihat kenyataan tidak seperti yang diinginkan. Setiap orang pasti memiliki cita-cita dan keinginan, sebagain bahkan menuangkannya dalam rencana-rencana tertentu lengkap dengan bagaimana cara untuk meraihnya. Baik itu rencana harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Namun apa daya, manusia hanya bisa berencana, namun keputusan tetap pada Sang Khalik, Allah SWT.
Lalu apa mengapa seringkali usaha tidak menghasilkan kenyataan yang diharapkan? Kisah ini mungkin bisa memberi sedikit ilustrasi. Ada seorang ibu yang dengan berani berusaha menyelamatkan sang buah hati. Sebuah papan menghubungkan dua gedung bertingkat. Di salah satu gedung tersebut, sang buah hati yang masih balita terjebak dalam kebakaran. Tanpa berpikir panjang, sang ibu berupaya menyelamatkannya. Tak peduli betapa tinggi gedung tersebut. Niat tulus dan ikhlas yang dimiliki sang ibu membuat ia mampu menghadapi kenyataan yang mungkin akan terjadi, apakah ia akan berhasil selamat, atau malah ia yang menjemput maut. Ia sudah tahu resiko dan menaruh sepenuhnya hasil akhir kepada Sang Khalik. Ia ikhlas dengan kejadian yang akan terjadi. Walaupun tentu saja sang ibu berharap keduanya selamat.
Ikhlas, itulah strategi terbaik untuk bisa menerima setiap keadaan. Setiap manusia wajib menyerahkan segala hasil dari rencana duniawinya kepada Allah. Ikhlas bahwa manusia seberapapun ia berusaha, keputusan akhir tetap berada di tangan-Nya. Ikhlas tidak berarti pasrah, justru sebaliknya. Ketika manusia merencanakan dan berusaha, manusia selalu memandang optimis bahwa apa yang sudah direncanakan berhasil. Tentu saja dengan perhitungan yang matang. Dalam Alqur’an disebutkan: “Dan mereka (jin dan manusia) tidak disuruh beribadah kepada Allah, melainkan dengan penuh keihkhlasan karena-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5). Sudah jelas bahwa setiap manusia, dalam hal sekecil apapun harus ikhlas. Membaca bismillahhirrahmannirrahim, merupakan salah satu upaya untuk bisa ikhlas, bahwa kita berkeyakinan segala sesuatu yang direncanakan akan ditentukan hasil akhirnya oleh Allah SWT. Dengan membaca basmalah pula, berarti mengindikasikan adanya niat yang lurus, yang ditancapkan dalam hati. Setiap aktivitas apapun sejatinya adalah ibadah, yang akan dihisab di hari perhitungan. Oleh karena itu niat yang lurus dan selalu menanamkan ikhlas, sejatinya juga menjadi bagian dari ibadah.
Ketika segala daya yang sudah direncanakan tidak berjalan sebagaimana mestinya, secara psikologis, manusia akan tertekan dan cenderung mencari pelampiasan. Misalnya, seorang majikan yang akan berangkat ke kantor di pagi hari naik mobil pribadi dengan seorang sopir. Ketika sampai di kantor, sang majikan kebingungan karena tas yang biasa dibawa tidak ada. “Sopir, mana tas saya? Kamu taruh di mana?”, sang majikan bertanya. “Maaf pak, bapak dari tadi tidak membawa tas”, sang sopir menjawab. “Ah, kamu ini gimana sih! Kenapa kamu tidak bilang dari tadi”, seketika sang majikan memarahi sopir dan terus menyalahkannya. Ilustrasi tersebut adalah salah satu contoh sederhana yang seringkali terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Betapa seringnya manusia menanamkan pemikiran bahwa orang lainlah yang selalu membuat kita kurang berhasil, yang selalu mendatangkan kesusahan, dan lain sebagainya. Alangkah baiknya dalam contoh kasus di atas, jika sang majikan selalu mengatakan kepada sopir untuk selalu mengingatkannya sebelum pergi tentang apa yang biasa harus dipersiapkan.
Allah berfirman dalam Alqur’an: “Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari kesalahan-kesalahan orang lain. Sukakah salah seorang diantara mu memakan daging saudaranya yang sudah menjadi bangkai, maka tentulah kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha menerima taubat lagi maha penyayang.” (Q.S. Al Hujuraat [49]: 12). Alangkah naifnya kita jika mengambinghitamkan orang di sekitar kita tanpa melihat diri kita terlebih dahulu, karena kegagalan dan kesalahan kita biasanya berawal dari tindakan kita sendiri.
Orang pintar mengajarkan bahwa sebelum mengambil sebuah tindakan, seseorang harus melakukan perencanaan yang baik dan terukur. Ilmu untuk mengajarkan hal ini, mulai dari perencanaan sampai pengawasan lazim diistilahkan dengan manajemen. Dalam konteks pembicaraan kita, manajemen bukan hanya dibutuhkan untuk hal-hal duniawi saja. Sebagai agama yang sempurna, Islam juga mengajarkan manusia untuk merencanakan dengan matang – secara seimbang – antara kehidupan di dunia dan juga kehidupan di akhirat. Seperti firman Allah dalam surat Al-Qashash [28] ayat 77: “Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain. Sebagai mana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan dimuka bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Manajemen dunia akhirat ini juga sangat relevan dengan upaya penempatan niat yang ikhlas dan tulus dalam lubuk hati.
Stephen Robbins (1999) dalam bukunya Management menyebutkan bahwa pola pengelolaan atau manajemen terbagi menjadi 4 tahap, yang ia singkat dengan POAC (planning, organizing, actuating, dan controlling). Pola seperti ini tidak hanya untuk diterapkan dalam sebuah organisasi, melainkan juga bisa diterapkan oleh setiap individu dalam kehidupannya. Mulai dari menentukan renaca, proses pengelolaan yang dibutuhklan, implementasi rencana, dan pengawasan agar selalu fokus pada tujuan yang akan kita capai.
Lalu dimanakah letak niat dan ikhlas? Niat tentu saja harus terukir di lubuk hati kita sebelum semua rencana dibuat. Ikhlas harus menjadi nafas dalam setiap tahapkarena ketika kita memiliki niat yang ikhlas di permulaan, tidak akan menjamin kita akan ikhlas seterusnya. Seorang yang pada awalnya berniat ikhlas ketika mengisi pengajian di luar kota di musim hujan, belum tentu pada akhirnya benar-benar ikhlas. Bisa jadi dalam perjalanan ia terjebak banjir, sehingga ia mengeluh. Dan ketika terjebak banjir, cenderung akan terbetik di hatinya, bahwa seandainya saja ia tidak jadi berangkat, atau kalau tahu seperti, ini tentu tidak jadi berangkat. Keikhlasan membutuhkan latihan dan pengelolaan yang intensif. Ikhlas juga tidak hanya dibutuhkan dalam niatan di awal rencana kita. Akan tetapi harus selalu ada dalam setiap sendi dan tahap perencanaan kita.
Manusia juga harus mampu memiliki esensi ikhlas secara keseluruhan. Ikhlas adalah nafas dalam setiap aktivitas sekecil apapun. Dengan ikhlas, maka iman akan terbangun. Iman adalah merupakan pondasi setiap Muslim. Pantaslah bila Imam Ibnu Atha’illah pernah berujar, “Rontoknya iman ini akan terjadi pelan-pelan, terkikis sedikit demi sedikit sampai akhirnya tanpa terasa habis tandas tidak tersisa.” Demikianlah yang terjadi pada orang yang tidak berusaha memelihara iman di dalam kalbunya.
Latihan dan belajar dari pengalaman. Itu merupakan salah satu yang harus dilakukan untuk memetik ilmu ikhlas. Ilmu bisa didapatkan dari situ. Setelah itu, kita akan menjadi tegar karena proses yang telah mengajari kita. Menjadi kuat dan tegar menjalani segala aktivitas dengan penuh ikhlas adalah utama. Seperti disebutkan dalam hadits, “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari orang mukmin yang lemah.” Semakin kita belajar dari pengalaman hidup kita tentang ikhlas, semakin kita tahu bagaimana penerapan ikhlas dalam mengelola seluruh rencana kehidupan kita, hari ini, esok hari, dan hari-hari yang akan datang.
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar